Pengembangan Mental dan Etika Bisnis

1.        Konsep Mental Wirausaha

Sebelum kita memahami akan konsep mental wirausaha. Alangkah baiknya kita ulas pengertian dari wirausaha. Secara sederhana arti wirausahawan (entrepreneur) adalah orang yang berjiwa berani mengambil resiko untuk membuka usaha dalam berbagai kesempatan. Berjiwa berani mengambil resiko artinya bermental mandiri dan berani memulai usaha tanpa diliputi rasa takut atau cemas sekalipun dalam kondisi tidak pasti. Kegiatan wirausaha dapat dilakukan seorang diri atau berkelompok. Seorang wirausahawan dalam pemikirannya selalu berusaha mencari, memanfaatkan, serta menciptakan peluang usaha yang dapat memberikan keuntungan. Resiko kerugian merupakan hal yang biasa karena mereka memegang prinsip bahwa faktor kerugian pasti ada. Bahkan, semakin besar resiko kerugian yang bakal dihadapi, semakin besar pula peluang keuntungan yang diraih. Tidak ada  istilah rugi selama seseorang melakukan usaha dengan penuh keberanian dan penuh perhitungan. Inilah yang disebut dengan jiwa wirausaha.

Peter F. Drucker mengatakan bahwa “kewirausahaan merupakan kemampuan dalam menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda”. Pengertian ini mengandung magsud bahwa seorang wirausahawan adalah orang yang memiliki kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru, berbeda dari yang lain. Atau mampu menciptakan sesuatu yang berbeda dengan sesuatu yang sudah ada sebelumnya.

Sementara itu, Zimmerer mengartikan kewirausahaan sebagai suatu proses penerapan kreatifitas dan inovasi dalam memecahkan persoalan dan menemukan peluang untuk memperbaiki kehidupan (usaha). Artinya, untuk menciptakan sesuatu diperlukan suatu kreatifitas dan jiwa innovator yang tinggi. Seseorang yang memiliki kreatifitas dan jiwa innovator tentu berpikir untuk mencari atau menciptakan peluang yang baru agar lebih baik dari sebelumnya.

Dari kedua pendapat diatas dapat disimpulkan dalam hal menciptakan kegiatan usaha. Kemampuan menciptakan memerlukan adanya kreatifitas dan inovasi yang terus menerus untuk menemukan sesuatu yang berbeda dari yang sudah ada sebelumnya. Kreativitas dan inovasi tersebut pada akhirnya mampu memberikan konstribusi bagi masyarakat banyak.

Dari jabaran pengertian kewirausahaan dapat gambaran tentang mental kewirausahaan. Mental adalah hal mendasar yang dimiliki oleh seseorang, cerminan atas mental adalah sikap seseorang dalam berperilaku. Manusia yang bermental wirausaha menurut (Soemanto,1984:48) mempunyai kemampuan keras untuk mencapai tujuan dan kebutuhan hidupnya. Setiap orang mempunyai tujuan dan kebutuhan tertentu dalam hidupnya. Saying, tidak setiap orang memiliki tujuan yang jelasdan operasional sehingga terbayang jelas jalan yang harus ditempuh untuk mencapainya. Apabila kita menanyai seseorang mengenai apakah tujuan dan kebutuhan hidupnya, sering mendapat jawaban, bahkan ia bertujuan untuk dapat hidup bahagia.

Kalau kita tanyakan lebih lanjut mengenai kebahagian yang bagaimana, ia menjadi bingung. Tujuan yang samar-samar kurang memberikan motivasi pada diri seseorang untuk berusaha mencapai tujuan. Kekuatan untuk mencapai tujuan adalah kemauan. Apabila kita berkemauan keras, maka jalan akan terbuka sehingga kita dapat mencapai tujuan kita. Ada pepatah, bila ada kemauan pasti ada jalan. Jadi kemauan yang keras merupakan kunci dari pada keberhasilan seseorang untuk mencapai tujuan. Hanya orang yang berkemauan keras saja yang bias mencapai hidup sukses. Sebaliknya, orang yang kurang memiliki kemauan keras akan mudah menyerah kepada keadaan yang menimpa dirinya. Orang yang kemauannya lemah kurang mampu berusaha memperbaiki nasib hidupnya, menjadi suka tergantung dan biasanya cenderung menjadi malas. Apakah yang dapat dicapai orang malas? Banyak orang yang tidak maju, kurang berprestasi oleh karena adanya sifat ini. Ingin berkeinginan untuk hidup sukses, tetapi justru orang lain yang dapat mencapai kesuksesan.

Disamping berkemauan keras, manusia yang bersikap mental wirausaha memiliki keyakinan yang kuat atas kekuatan yang ada pada dirinya.  Kita lahir di dunia telah dibekali dengan perlengkapan dan kekuatan sang pencipta agar kita dapat hidup dan menaklukan alam sekitar kita. Keyakinan inilah yang memberikan harapan, kegairahan serta semangat untuk bekerja atau berbuat kea rah tercapainya tujuan-tujuan hidup kita. Bagaimana menimbulkan kenyataan yang kuat dalam hidup kita? Ingat bahwa yang dimagsud  dengan keyakinan kuat di sini dapat disamakan dengan fanatisme dalam sikap dan pendangan hidup seseorang. Keyakinan yang kuat dapat kita tumbuhkan di dalam jiwa kita dengan syarat:

a)        Kita harus mengenal diri kita sendiri sebagai makhluk yang memiliki kelemahan, namun memperoleh anugerah kekuatan dari Yang Maha Kuasa untuk mengatasi kelemahan kita itu.

b)        Kita harus percaya kepada kemampuan diri sendiri, bahwa kita memiliki potensi tersendiri yang tidak kurang kuatnya dengan apa yang dimiliki oleh orang lain. Coba renungkan, kalau orang lain bias mencapai kesuksesan, mengapa kita tidak bias?

c)        Kita harus mengetahui dengan jelas terhadap tujuan-tujuan serta kebutuhan kita, dimana kita dapat mendapatkannya, bagaimana cara-cara untuk mencapai atau memenuhinya, serta kapan/beberapa lama target waktu untuk mencapai/memenuhinya, serta Setiap tujuan, kebutuhan dan rencana-rencana kita harus senantiasa menguasai jiwa kita dengan penuh kesabaran. Hal ini akan menumbuhkan kepercayaan kepada diri sendiri, sehingga dengan demikian timbul pula kegairahan dan semangat untuk maju dan kita terdorong dan tergerak untuk berbuat.

Manusia yang bersikap mental wirausaha memiliki sifat kejujuran dan tanggung jawab. Salah satu kunci keberhasilan seseorang dalam berusaha dan berirausaha adalah kepercayaan dari orang lain terhadap dirinya. Agar seseorang menorah simpati dan kepercayaan orang lain dalam berusaha, maka ia harus memiliki sifat kejujuran dan tanggung jawab ini. Banyak orang yang tidak dapat dipercaya oleh orang lain, baik dibidang usaha maupun karier oleh karena mereka tidak jujur dan tidak memiliki rasa tanggung jawab. Hal semacam ini terlebih-lebih kita rasakan pada lapangan-lapangan kerja itu, factor kejujuran dan tanggung jawab mendapatkan sorotan dan penilaian yang serius dari pihak manajer atau pemilik perusahaan. Pendeknya dunia pekerjaan akan menolak sifat-sifat semacam iyu. Akan lebih untung manusia yang dalam usahanya untuk mengubah nasib mau berusaha mengubah diri untuk memiliki sifat-sifat kejujuran dan tanggung jawab, sehingga akhirnya ia percaya kepada dirinya sendiri dan dipercaya oleh orang lain.

a)        Mendidk diri sendiri sehingga memiliki moral yang tinggi. Dengan perkataaan lain, kita hendaknya belajar untuk bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; belajar untuk memperoleh kemerdekaan batin; belajar untuk mementingkan keutamaan; belajar untuk mematuhi hokum-hukum yang berlaku; dan belajar untuk berlaku adil kepada sesame manusia.

b)        Melatih disiplin diri sendiri (“seif-descpline”). Mustahil bagi kita begitu saja menjadi manusia jujur dan bertanggung jawab, apabila kita tidak membina kepribadian kita. Rasa tanggung jawab dapat ditumbuhkan di dalam diri kita melalui latihan disiplin. Dengan melatih disiplin diri sendiri, maka kita akan memperoleh ketabahan, keuletan dan keteraturan tingkah laku dan perbuatan kita.

c)        Berorientasi kepada tujuan dan kebutuhan hidup. Dalam setiap kegiatan dan usaha kita, kita harus selalu ingat akan tujuan dan kebutuhan hidup kita. Setiap kegiatan dan usaha selalu kita lihat manfaatnya bahi tercapainya tujuan atau terpenuhinya kebutuhan kita. Dengan berorientasi pada tujuan disertai pengenalan akan manfaat setiap usaha dan kegiatan kita, maka hal ini akan menarik minat kita, dan minat yang kuat akan memancing kemauan kita untuk berbuat lebih lanjut.

Manusia yang bersikap mental wiraussaha memiliki ketahanan pisik dan mental. Sering kita mendengar adanya manusia-manusia yang mudah menyerah terhadap tantangan dan permasalahan hidup. Mereka tidak mau maju dan bahkan gagal sebelum mulai. Saying sekali, orang-orang semacam itu ada yang tidak menyadari, bahwa drinya telah menjadi budak kemiskinan pribadinya dan bahkan merasa dirinya lebih berharga, terhormat dan bergengsi. Seandainya mereka menyadari akan halnya atau dapat mengenal diri, tentunya mereka akan merasa malu dan bermotivasi lebih besar untuk menebus kegagalannya dengan usaha wirausaha yang berhasil. Itulah sekelumit gambaran tentang pribadi yang kurang kuat. Bagi mereka yang menyadari akan kelemahan pribadinya sekalipun, belum tentu mereka menjadi putus asa. Inilah peristiwa kematian sebelum meninggal dunia. Lain lagi halnya dengan orang-orang yang bersikap pantang mundur atau pantang menyerah kepada keadaan, maka merak ini lebih mending daripada mereka yang digambarkan sebelumnya. Namun sayang di antara mereka yang bersemangat baja ini ada yang hanya sekedar mampu bertahan pada keadaan dan prestasi yang telah ada. Yang lebih diharapkan yaitu sikap pantang menyerah terhadap keadan dan prestasi yang ada, untuk lebih maju mencapai pada saat sekarang. Untuk itu kita harus memiliki semangat dan tahan uji dari setiap tantangan dan penderitaan, baik lahir maupun batin.

Manusia wirausaha memiliki ketekunan dan keuletan dalam bekerja dan berusaha. Kemajuan dan suksesnya hidup tidak dapat dating dengan sendirinya. Kemajuan dan sukses harus diperoleh melalui usaha dan bekerja keras. Banyak orang yang tidak suka untuk bekerja keras, mereka lebih suka bermalas-malasan dengan penuh harapan akan memperoleh kemajuan dan prestasi hidup. Ada pula sebagian orang yang tidak mau bekerja keras tetapi ingin maju dan berprestasi dengan meminjam tenaga dan prestasi oang lain. Ada lagi orang yang ingin maju dan berhasil mengeruk harta dengan jalan mencuri, baik secara kasar mencuri maupun secara halus seperti korupsi, manipulasi dan sebagainya. Profil manusia yang baru digambarkan ini jelas tidak termasuk kategori manusia wirausaha karena buktinya mereka justru memiliki sifat-sifat tergantung kepada keadaan, mereka tergantung kepada kesempatan dalam kesempitan, mereka tergantung kepada tenaga dan presentasi orang lain. Ini tidak berarti, bahwa manusia wirausaha tidak tergantung kepada hal-hal lain semacam itu, namun manusia wirausaha lebih mengutamakan kekuatan pribadinya sendiri dalam usaha mencari kemajuan dan kesuksesan hidup. Oleh karena itu manusia wirausaha harus mau dan mampu untuk bekerja keras dan berjerih payah. Lihatlah bangsa yang maju, rakyatnya pasti suka bekerja keras. Tentulah bekerja keras inipun bukan asal bekerja. Kita masih melihat-lihat jenis pekerjaannya. Kemajuan dan kesuksesan hidup baru dapat kita capai apabila kita mampu dan mau bekerja keras dengan menggunakan berbagai potensi pribadi kita, baik potensi akal maupun okol kita. Potensi akal dan okol harus sama-sama kita manfaatkan untuk jerih payah mencapai sukses. Oleh karena itu manusia wirausaha disamping mampu memanfaatkan okol secara intetejen, juga memfungsikan akalnya secara intensif untuk memecahkan berbagai macam persoalan yang ia hadapi.

Apabila uraian tentang sikap mental wirausaha di atas kita ringkas, maka dapat disimpulkan, bahwa manusia yang bersikap mental wirausaha setidak-tidaknya memiliki enam kekuatan mental yang membangun kepribadian yang kuat:

a)        Berkemauan keras

b)        Berkeyakinan kuat atas kekuatan pribadi; untuk itu diperlukan:

v   Pengenalan diri

v   Kepercayaan pada diri sendiri

v   Pemahaman tujuan dan kebutuhan

c)        Kejujuran dan tanggung jawab; yang untuk ini diperlukan

v   Moral yang tinggi

v   Disiplin diri sendiri

d)       Ketahanan fisik dan mental; yang diperlukan

v   Kesehatan jasmani dan rohani

v   Kasabaran

v   Ketabahan

e)        Ketekunan dan keuletan untuk bekerja keras

f)         Pemikiran yang konstruktif dan kreatif

Dengan demikian pribadi yang bersikap mental wirausaha menghendaki adanya enam kekuatan pribadi seperti yang dikemukakan di atas.

 

2.        Etika Wirausaha

Suatu kegiatan haruslah dilakukan dengan etika atau norma-norma yang berlaku di masyarakat bisnis. Etika dan norma-norma ini digunakan agar para pengusaha tidak melanggar aturan yang telah ditetapkan dan usaha yang dijalankan memperoleh simpati dari berbagai pihak. Pada akhirnya, etika tersebut ikut membentuk pengusaha yang bersih dan dapat memajukan serta membesarkan usaha yang dijalankan dalam waktu yang relative lebih lama.

Dengan melaksanakan etika yang benar, akan terjadi keseimbangan hubungan antara pengusaha dengan masyarakat, pelanggan, pemerintah, dan pihak lain yang berkepentingan. Masing-masing pihak akan merasa dihormati dan dihargai. Kemudian ada rasa saling membutuhkan di antara mereka yang pada akhirnya menumbuhkan rasa saling percaya sehingga usaha yang dijalankan dapat berkembang seperti apa yang diinginkan.

Pengertian etika adalah tata cara berhubungan dengan manusia lain. Tata cara pada masing-masing masyarakat tidaklah sama atau beragambentuk. Hal ini disebabkan beragamnya budaya kehidupan masyarakat yang bersal dari berbagai wilayah. Tata cara ini diperlukan dalam berbagai sendi kehidupan manusia agar terbina kehidupan yang harmonis, saling menghargai satu sama lainnya.

Ditilik dari sejarahnya kata etika berasal dari bahasa Perancis (etiquette), yang berarti kartu undangan. Pada saat itu raja-raja Perancis sering mengundang para tamu dengan menggunakan kartu undangan.dalam kartu undangan tercantum persyaratan atau ketentuan untuk menghadiri acara, antara lain waktu acara dan pakaian yang harus dikenakan.

Dalam arti luas, etika sering dissebut sebagai tindakan mengatur tingkah laku atau perilaku manusia dengan masyarakat. Tingkah laku ini perlu diatur agar tidak melanggar norma-norma atau kebiasaan yang berlaku di masyarakat. Hal ini disebabkan norma-norma atau kebiasaan masyarakat disetiap daerah atau Negara berbeda-beda.

Dalam prakteknya, norma atau kebiasaan ini untuk cara tertentu dilakukan sama sehingga setiap orang diharuskan menikuti norma tersebut. Etika bertujuan agar norma-norma yang berlaku dijalankan sehingga setiap undangan merasa dihargai, begitu pula dengan pengundangnya. Dengan adanya etika suasana akrab dapat terjalin. Pelanggaran terhadap etika membuat pihak pengundang atau yang diundang akan tersinggung atau merasa tidak dihargai sehingga suasana menjadi tidak nyaman.

Oleh karena itu, dalam etika berusaha perlu ada ketentuan yang mengaturnya. Adapun ketentuan yang diatur dalam etika wirausaha secara umum adalah sebagai berikut.

a)        Sikap dan perilaku seseorang pengusaha harus mengikuti norma-norma yang berlaku dalam suatu Negara atau masyarakat.

b)        Penampilan yang ditujukan seorang pengusaha harus selalu apik, sopan, terutama dalam menghadapi situasi atau acara-acara tertentu.

c)        Cara berpakaian pengusaha juga harus sopan dan sesuai dengan tempat dan waktu yang berlaku.

d)       Cara berbicara seorang pengusaha juga mencerminkan usahanya, sopan, penuh tata karma, tidak menyinggung atau mencela orang lain.

e)        Gerak-gerik pengusaha juga dapat menyenangkan orang lain, hindarkan gerak-gerik yang dapat mencurigakan.

Kemudian, etika atau norma yang harus ada dalam benak dan jiwa setiap pengusaha adalah sebagai berikut.

a)        Kejujuran

Seorang pengusaha harus selalu jujur baik dalam berbicara maupun bertindak. Jujur ini perlu agar berbagai pihak percaya terhadap apa yang dilakukan. Tanpa kejujuran, usaha tidak akan maju dan tidak dipercaya konsumen atau mitra kerja.

b)        Bertanggung jawab

Pengusaha harus bertanggung jawab terhadap kegiatan yang dilakukan dalam bidang usahanya. Kewajiban terhadap berbagai pihak harus segera diselesaikan. Tanggung jawab tidak hanya terbatas pada kewajiban, tetapi juga kepada seluruh karyawan, masyarakat, dan pemerintah.

c)        Menepati janji

Pengusaha dituntut untuk selalu menepati janji, misalnya dalam hal pembayaran, pengiriman barang atau penggantian, sekali pengusaha ingkar janji, hilanglah kepercayaan pihak lain terhadapnya. Pengusaha juga harus konsisten terhadap apa yang dibuat dan disepakati sebelumnya.

 

d)       Disiplin

Pengusaha dituntut untuk selalu disiplin dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan usahanya, misalnya dalam hal waktu pembayaran atau pelaporan kegiatan usahanya.

e)        Taat hokum

Pengusaha harus selalu patuh dan menaati hokum yang berlaku, baik yang berkaita dengan masyarakat maupun pemerintah. Pelanggaran hukum dan peraturan yang telah dibuat berakibat fatal dikemudian hari. Bahkan, hal itu akan menjadi beban moral bagi pengusaha apabila tidak diselesaikan dengan segera.

f)         Suka membantu

Pengusaha secara moral harus sanggup membantu berbagai pihak yang memerlukan bantuan. Sikap ringan tangan ini dapat ditunjukan kepada masyarakat dalam berbagai cara. Pengusaha yang terkesan pelit akan dimusuhi oleh banyak orang.

g)        Komitmen dan menghormati

Pengusaha harus komitmen dengan apa yang mereka jalankan dan menghargai komitmen dengan pihak-pihak lain. Pengusaha yang menjunjung komitmen terhadap apa yang telah diucapkan atau disepakati akan dihargai oleh semua pihak.

h)        Mengejar prestasi

Pengusaha yang sukses harus selalu berusaha mengejar prestasi setinggi mungkin. Tujuan agar perusahaan dapat terus bertahan dari waktu ke waktu. Prestasi yang berhasil dicapai perlu terus ditingkatkan. Di samping itu, pengusaha juga harus tahan mental dan tidak mudah putus asa terhadap berbagai kondisi yang dihadapinya.

 

3.        Pengembangan mental wirausaha dan etika bisnis dalam penerapan pembelajaran ekonomi

Mengembangkan pembelajaran ekonomi tidak hanya dalam lingkungan sekolah saja, tetapi dalam keluarga, lingkungan sekitar dan masyarakat. Mengembangkan mental wirausaha pada anak dimulai dari lingkungan keluarga

·           Dalam lingkungan keluarga

Banyak orang tua yang belum mengerti cara-cara mendidik anak yang efektif. Kebanyakan dari mereka melaksanakan pendidikan dengan menggunakan kekuasaan atau otoritas orang tua. Anak dianggap sebagai makhluk yang harus tunduk dan patuh kepada segenap kehendak dan aturan-aturan orang tua. Sikap berkuasa sementara orang tua ini ditunjukkan kepada anak-anak, terlebih-lebih kepada anak-anak yang bukan anak kandung mereka atau anak-anak dari sanak saudara yang berasal dari lingkungan lain misalnya dari desa. Pendidikan yang mereka berikan lebih banyak berupa nasihat-nasihat dan teguran-teguran yang tidak memperhatikan taraf pertumbuhan dan perkembangan anak. Mereka anti terhadap tindakan-tindakan anak yang dianggap salah atau tidak pantas. Bagi para orang tua yang belum mengenal perkembangan jiwa anak, cenderung lebih suka menganggap aneka tingkahlaku anak kecil sebagai keanehan yang tidak pantas. Para orang tua cenderung menekan dan membatasi gerakan dan variasi tingkahlaku anak-anak.

Dalam praktek, sering pula kita jumpai banyak keluarga atau orang tua yang membiarkan kehidupan anak-anak di rumah dirundung oleh situasi rutin yang tidak kreatif. Anak-anak tidak diberi kesempatan untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang melatih pribadi yang dinamis dan kreatif. Anak dibiarkan bermalas-malasan, luntang-lantung tak menentu. Akibatnya, anak sering tidak krasan dan tidak betah untuk tinggal di rumah dan pergi begadang entah kemana, orangtua tidak dapat mengadakan pengawasan atau bahkan tidak perduli. Apalagi jika anakanak sudah bersekolah dan kebetulan memiliki cukup kecerdasan, maka orangtua menjadi bangga dan puas. Akibat kepuasannya itu, mereka menjadi lengah, merasa tidak perlu lagi membimbing dan melatih kekuatan mental anak agar siap untuk menghadapi tantangan hidup maas depan. Situasi semacam itu juga merugikan anak. Anak menjadi canggung, kekuatan pribadinya menjadi kurang berkembang.

Semua apa yang diungkapkan di atas adalah bukan kondisi yang tepat untuk membelajarkan anak menjadi manusia wirausaha. Kondisi semacam itu perlu mendapatkan perhatian dan perlu diubah menjadi situasi belajar kewiraswastaan di lingkungan keluarga. Berikut ini dikemukakan cara untuk menciptakan situasi belajar kewirausahaan di lingkungan keluarga.

        i.            Ciptakanlah hubungan yang erat dan serasi antara orangtua clan anak, antara anggota keluarga yang sate dengan anggota lainnya

Dengan berbagai alasan, baik karena kesibukan orangtua maupun perbedaan usia clan status hubungan keluarga, banyak orang tua yang dengan sengaja membatasi hubungan dan pergaulan antar anggota keluarga di dalam suatu rumah tangga. Mereka tidak menghendaki pergaulan intim antara orangtua clan anak-anak, antara pembantu rumah tangga dengan anggota keluarga, bahkan antara anak titipan dengan anak kandung. Di antara para anggota keluarga diberikan jarak pemisah yang kaku dalam hal pergaulan. Keadaan ini dapat menimbulkan suasana yang kaku, rutin, dan tidak efektif. Mereka terbatas dalam status dan perbedaan mereka. Mereka jarang memiliki kesempatan untuk bertukar pikiran clan mendiskusikan permasalahan hidup sehari-hari. Dan yang lebih merugikan lagi, mereka kurang mengenal sate same lain. Kurang kenal maka tak sayang.

Sebagai pimpinan rumah tangga, ayah dan ibu atau orang tua lainnya hendaknya mau dan mampu membangun hubungan yang erat clan serasi di lingkungan keluarga. Hubungan intra keluarga ini perlu dibangun tanpa memandang usia tua dan usia muda, tuan rumah dan pembantu, anak kandung dan anak titipan. Tentu saja bukan berarti bahwa hubungan pergaulan itu harus tanpa batas. Hubungan pergaulan antar anggota keluarga dijalin dengan masih memperhitungkan nilai-nilai etis kerumah tanggaan. Tidak akan dibenarkan apabila misalnya pembantu rumah tangga menguasai rumah tangga, berani berbuat sewenang-wenang terhadap tuan rumah ataupun anggota keluarga lainnya. Yang diperlukan di sini yaitu eratnya hubungan-hubungan kemanusiaan yang harmonis di antara mereka, sehingga mereka tidak lagi merasa canggung dalam pergaulan.

Dengan adanya hubungan yang erat dan wajar di antara para anggota keluarga, maka mereka akan saling terbuka dan saling mengenal. Mereka akan suka dan mampu untuk menggunakan setiap kesempatan untuk bertukar pikiran dan pendapat. Mereka akan selalu siap untuk mendiskusikan setiap masalah serta kebutuhan dari masing-masing anggota keluarga, ataupun mengenal masalah dan kebutuhan rumah tangga pada umumnya.

Situasi seperti di atas akan memperingan beban penderitaan keluarga, karena setiap permasalahan dapat dipecahkan bersama dengan jalan musyawarah. Di samping itu, suasana pergaulan semacam itu merupakan kondisi yang balk bagi keluarga untuk melaksanakan pendidikan, teristimewa bagi usaha mendidik manusia wiraswasta.

      ii.            Ciptakanlah kesibukan rumahtangga yang bermanfaat

Para anggota keluarga terlebih-lebih anak-anak akan terjangkit penyakit malas dan masa bodoh apabila kepada mereka tidak dibiasakan untuk melakukan berbagai macam kesibukan. Banyak waktu terluang yang mestinya dapat didaya gunakan oleh seluruh anggota keluarga selama mereka tinggal di rumah.

Banyak orang tua yang menyadari hal itu dan sudah berusaha untuk menciptakan kesibukan bagi para anggota keluarga tetapi mengalami kegagalan dalam arti tidak terlaksana secara kontinyu dan berhasil, mengapa? Usaha itu tadi mengalami kegagalan, barangkali karena jenis-jenis kesibukannya bersifat rutin misalnya kesibukan main catur, main tenis meja, membersihkan rumah dan halaman, memperindah pagar dan rumah, mengawasi dan memberi makanan anjing, dan berbagai kesibukan rutin lainnya yang tidak berkembang dan bahkan menjemukan atau melelahkan melulu.

Kesibukan rumah yang perlu diciptakan agar para anggota keluarga khususnya anak-anak menjadi berminat, adalah macam-macam kesibukan yang dinilai oleh anak-anak mempunyai arti dan manfaat bagi diri mereka pada masa sekarang ataupun untuk masa mendatang. Banyak anak-anak menjadi tidak berminat atau bosan terhadap kesibukan-kesibukan yang mereka kerjakan karena mereka memandang, bahwa kesibukan-kesibukan itu tidak bermanfaat.

Agar kesibukan yang diberikan kepada para anggota keluarga bermanfaat clan diminati oleh mereka, maka kesibukan yang diciptakan hendaknya diusahakan memenuhi persyaratan berikut :

        i.            Kesibukan hendaknya barupa kegiatan yang berhasil guna untuk memenuhi kebutuhan seluruh anggota keluarga di masa sekarang.

      ii.            Kesibukan hendaknya berupa kegiatan yang memberikan bekal hidup di masa depan bagi masing-masing anggota keluarga.

Dengan demikian, tugas orangtua bukan hanya menciptakan sembarang kesibukan, melainkan harus mencari dan memilih jenis-jenis usaha yang di samping dapat menambah penghasilan keluarga, juga mendidik/mempersiapkan para anggota keluarga untuk menjadi manusia wirausaha. Mengenai bagaimana soal memilih usaha ini, akan dibahas tersendiri pada Bab lain dalam buku ini.

    iii.            Adakan kesempatan-kesempatan untuk pertemuan antar anggota keluarga untuk persiapan mental wirausaha

Sering orangtua kurang menyadari pentingnya pertemuan-pertemuan antara anggota keluarga ini bagi kehidupan rumah tangga. Bahkan ada sementara keluarga yang jarang bertemu antara anggota yang satu dengan anggota keluarga yang lain, padahal mereka sering berada di rumah dan kesempatan terlewatkan begitu saja.

Di lain pihak, banyak keluarga yang para anggotanya sering bertemu, tetapi kesempatan pertemuan itu lebih banyak untuk sama-sama mengerjakan pekerjaan rutin. Mereka tidak menyadari arti penting dari pada setiap pertemuan antar anggota keluarga itu. Setiap pertemuan keluarga berlangsung, kebanyakan dalam rangka bekerja atau mengobrol tak menentu arah pembicaraannya. Jarang mereka memanfaatkan setiap pertemuan untuk kepentingan belajar.

Terlepas dari masalah kesibukan mencari nafkah kesibukan mencari masalah, maka keluarga yang ingin maju hendaknya mengadakan serta memanfaatkan kesempatan bertemu-antar anggota keluarga untuk keperluan pendidikan untuk mempersiapkan mental diri dan anggota keluarga utuk berwirausaha. Memang, persiapan mental wirausaha tidak hanya dilakukan pada kesempatan semacam itu, namun kesempatan bertemu adalah kesempatan yang paling tepat untuk berdiskusi dan mempersiapkan mental berwiraswasta.

Kesempatan-kesempatan yang perlu diadakan dan dimanfaatkan untuk persiapan mental wiraswasta ini adalah baik dalam bentuk insidental maupun rutin. Kesempatan insidental misalnya pada waktu bekerja bersama, pada waktu istirahat bersama dan pada waktu belajar bersama. setiap kesempatan itu hendaknya tidak hanya dipakai untuk mengobrol tak berarti, tetapi akan lebih berguna untuk menanamkan sikap mental wirausaha kepada para anggota keluarga. Kesempatan rutin yang perlu diadakan dan dimanfaatkan untuk mendidik manusia wirausaha, berbincang-bincang tentang itu misalnya pada waktu makan atau sesudah makan bersama.

Kebiasaan makan bersama bagi seluruh anggota keluarga pada jam-jam tertentu adalah sangat positif. Di samping untuk memelihara harmoni hubungan antar anggota keluarga, juga bermanfaat untuk menyempatkan berbincang-bincang mengenai usaha memajukan kehidupan serta menanamkan sikap mental wirausaha pada anak-anak. Kesempatan ini sering dilewatkan oleh banyak keluarga, baik di desa maupun di kota. Sering terjadi, dalam suatu keluarga masing-masing anggota keluarga makan sendiri-sendiri, mengambil sendiri dari lemari, membereskan sendiri-sendiri. Cara makan seperti itu sesungguhnya telah membuang kesempatan emas keluarga untuk mempersiapkan manusia wirausaha. Memang dapat dimaklumi, bahwa masing-masing anggota keluarga mempunyai kesibukan yang waktu penyelesaiannya tidak bersamaan. Hal ini setidak-tidaknya dapat di atasi dengan bergrup-grup, tiap grup makan terdiri atas dua orang atau lebih supaya terjadi komunikasi atau dialog antar anggota keluarga. Hal ini akan lebih baik bila setiap grup makan dipimpin oleh salah seorang yang sudah dewasa misalnya ibu.

Apabila kesempatan makan bersama tidak mungkin dimiliki oleh keluarga, maka dapat dicari kesempatan lain misalnya pads waktu sesudah sembahyang atau kebaktian keluarga. Pendek kata, baik secara rutin maupun insidental, keluarga sebaiknya mencari kesempatan untuk bertemu untuk persiapan mental wiraswasta keluarga.

     iv.            Bangunlah keluarga menjadi suatu perusahaan mini

Apabila keluarga telah memilih dan menetapkan kesibukan berupa jenis usaha tertentu, baik usaha itu adalah usaha produksi maupun jasa, maka pelaksanaannya harus diusahakan seefektif mungkin. Usaha itu hendaknya berencana serta terorganisir sedemikian rupa sehingga berhasil guna, baik untuk keperluan produksi, maupun edukasi atau pendidikan.

Sebenarnya di dalam lingkungan keluarga terdapat modal potensial untuk memajukan kehidupan keluarga yang bersangkutan. Modal yang dimaksudkan tidak harus berupa uang. Banyak orang merasa enggan untuk membina rumah tangga berusaha, karena mereka menganggap, bahwa uang merupakan modal satu-satunya untuk membangun suatu usaha. Akibatnya jarang adanya keluarga-keluarga yang berani dan mau untuk bersibuk-sibuk berusaha guna meningkatkan penghasilan keluarga. Mereka membiarkan diri mereka menjadi manusia-manusia konsumtif yang menggantungkan kehidupan mereka dari gaji atau upah kerja yang minim untuk sekedar mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari saja. Setiap hari mereka dirundung oleh masalah yang tak kunjung terpecahkan. Mereka lebih banyak dikuasai oleh masalah “besok pagi apakah ada yang dimakan”? dan bukan “besok pagi giliran makanan apa?”. Mereka tidak berniat untuk memikirkan usaha menambah penghasilan dengan jalan membangun suatu usaha yang produktif di lingkungan keluarga. Mereka lebih banyak menggantungkan hidup keluarga kepada nasib uluran tangan dari pihak lain. Sikap keluarga semacam itu jelas tidak produktif, tidak mengatasi kesulitan hidup keluarga, dan juga tidak edukatif. Sikap keluarga semacam itu akan terbawa-bawa oleh anak-anak clan membentuk sikap malas, statis dan tidak kreatif.

Dengan membangun keluarga menjadi suatu perusahaan mini, maka terciptalah situasi edukatif, di mana para anggota keluarga dapat belajar memperoleh pengalaman serta bekal kepribadian yang kuat untuk menghadapi tantangan hidup di masa-masa selanjutnya. Di samping itu dengan membangun perusahaan mini di rumah, maka kehidupan keluarga menjadi produktif, mampu berdikari dan mampu mencapai prestasi kemajuan hidup.

Modal apakah yang dapat kita gali dan manfaatkan untuk mendirikan perusahaan rumah tangga? Orang yang berjiwa pesimis akan menjawab: “dengan modal dengkul”. Sebenarnya tidak demikian halnya. Perlu kita sadari, bahwa yang dapat dijadikan modal pertama dan utama yaitu bukan uang, bukan pula harta. Modal pertama dan utama adalah pribadi yang kuat berupa kemauan dan kepercayaan pada diri sendiri. Ada pepatah yang populer: “ada kemauan maka ada jalan”. Persoalan uang bisa dicari kalau orang sudah mempunyai modal pribadi yang kuat yang disebut kemauan dan kepercayaan. Oleh karena itu uraian terdahulu mengungkap perlunya persiapan mental berusaha di lingkungan keluarga yang antara lain membangkitkan minat dan kemauan keras untuk berusaha apapun demi kemajuan hidup pribadi dan keluarga.

Modal pokok yang sering dilupakan oleh keluarga yaitu modal tenaga kerja. Dalam keluarga-keluarga, terlebih-lebih keluarga besar, faktor tenaga kerja di lingkungan keluarga ini sering diabaikan tidak didayagunakan. Padahal tenaga-tenaga itu merupakan modal pokok untuk memulai usaha. Banyak keluarga yang tidak menyadari pentingnya anggota keluarga di dalam lingkungan rumah tangga, sehingga mereka enggan memanfaatkan dan mengembangkan kualitas tenaga itu untuk berusaha memajukan hidup keluarga. Di antara mereka bahkan menjadi panik dan merasa kurang enak apabila mereka dititipi tenaga kerja. Mereka hanya menganggap bahwa jumlah anggota keluarga yang bertambah akan memberatkan beban hidup keluarga saja.

Modal lain di dalam keluarga yang perlu digali dan didayagunakan adalah bakat dan keahlian/kecakapan para anggota keluarga, teristimewa dari anggota keluarga yang sudah tergolong dewasa termasuk pihak orang tua sendiri. Dengan berbagai macam modal pokok itu, maka keluarga dapat dibangun menyerupai sebuah perusahaan. Dengan cara ini, maka tidak diharapkan lagi adanya sikap orang tua yang membiarkan para anggota keluarganya hidup luntang-lantung tidak produkttif.

Keluarga yang melek usaha akan merasa lebih beruntung apabila keluarga mendapat kepercayaan dari sanak saudara untuk dititipi anak-anak muda ikut serta di dalam keluarganya. Di samping mereka dapat ditampung dan dibimbing dalam masalah sekolah dan karier mereka, juga mereka dapat dilatih untuk berwirausaha sebagai bekal pribadi mereka dan sekaligus dapat bekerja sama di bidang produksi.

Dengan penciptaan situasi keluarga sebagai suatu perusahaan ini, maka keluarga mempunyai dua fungsi sekaligus di samping sebagai lembaga pendidikan juga sebagai lembaga ekonomi. Ini dapat kita sebut sebagai “dwifungsi keluarga”.

Dengan pelaksanaan dwifungsi keluarga sebagai lembaga pendidikan dan lembaga ekonomi ini, maka peranan orang tua menjadi berganda :

          i.           Orangtua sebagai pemimpin pendidikan, teristimewa pendidikan manusia wirausaha di lingkungan keluarga

        ii.           Orangtua sebagai manajer perusahaan, dalam arti pemimpin sebuah perusahaan mini di lingkungan keluarga.

Sebagai manajer perusahaan, orang tua hendaknya mengenal sedikit-sedikit tentang manajemen atau pengelolaan suatu perusahaan. Orangtua hendaknya mengerti tentang arti manajemen, yaitu proses menggerakkan orang-orang secara efisien untuk mencapai tujuan tertentu. Dengan demikian pengertian manajemen perusahaan keluarga adalah proses, menggerakkan para anggota keluarga untuk berpartisipasi secara efektif di dalam usaha bersama untuk mencapai keuntungan ekonomi keluarga.

Apabila keluarga sudah berwujud suatu perusahaan, maka para anggota keluarga yang sudah mampu berpikir dan bekerja ringan lank-anak yang sudah berumur 7 tahun ke atas) serta para anggota yang sudah remaja dan dewasa perlu digerakkan untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan usaha. Dengan demikian tidak diharapkan lagi ada anggota keluarga yang dibiarkan menganggur dan bermalas-malasan tanpa kesibukan. Adapun para anggota keluarga, baik itu adalah ayah, ibu, anak-anak, kakek, nenek, bibi, paman, keponakan, pembantu rumah tangga, pendeknya siapa saja yang dirasa bertenaga untuk bekerja digerakkan untuk berpartisipasi dalam usaha bersama. Partisipasi para anggota keluarga meliputi partisipasi di dalam tiga fungsi perusahaan, yaitu :

1). Partisipasi dalam pembuatan policy perusahaan.

2). Partisipasi dalam manajemen perusahaan.

3). Partisipasi dalam kegiatan produksi/usaha keluarga.

Dengan partisipasi para anggota keluarga di dalam fungsif-fungsi perusahaan semacam itu, maka di samping dapat mencicipi hasil produksi atau keuntungan usaha mereka, yang terlebih penting yaitu bahwa mereka memperoleh kesempatan yang berharga untuk belajar kewirausaha, sehingga mereka memperoleh bekal pengalaman serta kekuatan pribadi untuk menjadi manusia wirausaha.

Orangtua sebagai manajer dan pemimpin, hendaknya mengajak para anggota keluarga untuk sering bermusyawarah menyusun kebijakan atau kebijaksanaan tentang tujuan, jenis usaha, pengaturan usaha serta pemanfaatan hasil usaha mereka. Dengan demikian, masing-masing anggota keluarga akan belajar atau melatih diri untuk membuat keputusan (“decision making”). Perlu diingat, bahwa orangtua sebagai manajer mempunyai fungsi ganda, dan misi pokoknya yaitu mendidik anak atau anggota keluarga. la sebaiknya dapat melatih anak untuk berani mengajukan pendapat dalam rangka pembuatan keputusan melalui musyawarah.

Sebagai manajer, orang tua menjalankan fungsi manajemen perusahaan, la harus mampu menyusun perencanaan secara kasar tentang pelaksanaan kegiatan-kegiatan usaha; la harus mampu mengorganisir usaha bersama mulai dari pendiskripsian tugas-tugas sampai dengan pembagian tugas-tugas pekerjaan itu kepada masing-masing anggota keluarga sesuai dengan taraf perkembangan pribadi, mint, kecakapan dan kemampuan masing-masing; ia hendaknya mampu memberikan bimbingan dan pengarahan kepada para anggota dalam melaksanakan tugas/pekerjaan masing-masing; ia harus mampu mengadakan pengawasan secara kontinyu terhadap pelaksanaan semua kegiatan usaha keluarga; ia harus mampu mengkoordinir pelaksanaan kegiatan dari masing-masing pekerja; dan ia harus mampu pula untuk mengadakan penilaian hasil usahanya. Ingat, dalam rangka mendidik manusia wirausaha ia harus selalu mengikutsertakan semua anggota keluarga dalam setiap pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen tersebut di atas, sehingga anak-anak belajar dan memperoleh bekal kewirausaha.

Dalam pelaksanaan usaha produksi ataupun jasa, orang tua sebagai manajer hendaknya mampu memberikan latihan atau setidak-tidaknya memberikan petunjuk kepada para anggota keluarga tentang bagaimana sebaiknya orang bekerja. la hendaknya mampu mendorong dan melatih mental dan ketrampilan anak-anak dalam mengerjakan sesuatu pekerjaan.

Demikianlah, melalui praktek-praktek usaha bersama di lingkungan keluarga ini, anak-anak memperoleh latihan dan pengalaman untuk berkemauan kuat, percaya pada diri sendiri, rajin, tekun, berdisiplin, dan bekerja keras. Dengan demikian, penciptaan keluarga sebagai suatu perusahaan mini akan memberikan situasi yang tepat untuk mendidik manusia wirausaha.

       v.            Bagaimana perlakuan orang tua diberikan kepada anak-anak untuk mendidik mereka menjadi manusia wiraswasta?

Perlakuan dan pelayanan orang tua terhadap anak-anak sangat mempengaruhi kehidupan pribadi anak-anak itu. Perlakuan orang tua dapat membentuk kebiasaan berpikir, pola tingkah laku dan sikap pribadi anak-anak yang akan dibawanya sampai di kemudian hari. Uraian terdahulu telah mengemukakan, bahwa orangtua atau keluarga merupakan peletak dasar bagi perkembangan pribadi anak di masa mendatang. Oleh karena itu, orang tua atau keluarga hendaknya dapat berlaku bijaksana di dalam mendidik anak-anak. Apabila sejak awal perkembangan, pribadi anak terbentuk secara keliru, maka hal ini akan merugikan kehidupan anak. Perlakuan yang bijaksana di tuntut dari orang tua, terlebih-lebih bila orang tua itu sudah mengerti kewirausahaan dan ingin mendidik anak menjadi manusia wirausaha. Berikut ini dikemukakan secara umum mengenai bagaimana sebaiknya orang tua memberi perlakuan yang mendidik anak sehingga anak memiliki kualitas pribadi manusia wirausaha.

·      Dalam lingkungan sekolah

Sumbangan pemikiran kami dalam usaha menjawab masalah bagaimana mempersiapkan manusia-manusia wirausaha di lingkungan sekolah-sekolah kita, tentu saja bertolak dari fakta tentang kelemahan-kelemahan dalam praktek pendidikan formal kita pada dewasa ini. Sekolah-sekolah kita menghadapi tantangan kebutuhan masyarakat yang cukup mendesak, yaitu mempersiapkan manusia-manusia wirausaha. Sekolah tak akan mampu menjawab tantangan tersebut, apabila kelemahan-kelemahan tersebut tidak dibenahi. Berikut ini adalah beberapa usaha yang dapat ditempuh untuk mempersiapkan manusia-manusia wirausaha di lingkungan sekolah.

     vi.            Pembenahan proses belajar-mengajar di sekolah untuk membelajarkan siswa secara aktif

Proses belajar-mengajar merupakan sub-sistem dari pads pengajaran. Kita akan mengalami kesulitan dalam usaha mengubah proses belajar-mengajar itu sendiri, apabila kita tidak mengubah sub-sub sistem lain yang sangat mendukung proses belajar mengajar. Beberapa komponen pengajaran perlu juga dibenahi, agar proses belajar-mengajar terbenahi pula. Agar Para siswa di sekolah dapat aktif membelajarkan diri sehingga pribadi mereka dapat berkembang secara dinamis dan kreatif, maka berikut ini disajikan pemikiran mengenai pembenahan beberapa komponen yang sangat besar pengaruhnya terhadap perbaikan proses belajar-mengajar di sekolah-sekolah kita.

        i.            Pembenahan terhadap diri guru-guru

Dalam praktek, kebanyakan guru-guru masih terikat oleh tradisi yang kurang menguntungkan bagi usaha pengembangan pribadi anak yang dinamis dan kreatif. Sifat-sifat guru yang statis, kurang terbuka terhadap inovasi, kurang peka terhadap kenyataan dan tantangan hidup di dalam masyarakat, serta kurang bertumbuh di dalam jabatan mereka, semua ini menghambat guru yang bersangkutan dalam usaha mendidik manusia wirausaha. Oleh karena itu pada diri guru sangat cliperlukan beberapa perubahan, antara lain: mengubah sikap statis menjadi bersikap dinamis; mengubah sikap tertutup terhadap inovasi menjadi terbuka terhadap inovasi; melatih kepekaan terhadap kenyataan clan tentang hidup di dalam masyarakat; serta mengusahakan pertumbuhan diri dalam jabatan dengan jalan membelajarkan diri agar memiliki kualitas pribadi yang lebih tinggi. Kalau perlu, guru-guru dapat memberikan teladan bagi siswa clan masyarakat, mengenai usaha-usaha kewiraswastaan. Adakah kemungkinan bagi guru-guru untuk menjadi wirausahawan/wirasusahawati yang berhasil

      ii.            Pembenahan terhadap sistem bimbingan belajar.

Sistem bimbingan belajar klasikal mengandung kelemahan, yaitu dengan kurangnya perhatian clan pelayanan guru terhadap perbedaan individual para siswa. Keadaan ini jelas menghambat integritas serta perkembangan pribadi anak yang dinamis dan kreatif. Dalam membenahi sistem bimbingan ini, tidak harus dengan meninggalkan sistem klasikal. Pembenahan dapat ditempuh-dengan jalan memperbaiki administrasi sekolah yang memungkinkan adanya kondisi dan kesempatan bagi guru-guru untuk memberikan bimbingan belajar secara individual. Untuk membantu guru-guru dalam hal ini, pada tiap-tiap sekolah perlu terdapat beberapa ‘orang ahli bidang studi serta konselor dalam rangka pelaksanaan, bimbingan belajar secara indivi dual.

    iii.            Pembenahan dalam hal metode mengajar

Kebanyakan guru sekolah masih terbiasa menggunakan metode ceramah tanpa banyak diselingi oleh penggunaan metode lain yang memungkinkan siswa aktif membelajarkan diri. Murid-murid kurang terbimbing untuk mengembangkan potensi analisa dan kreativitasnya secara optimal. Untuk itu perlu.pembenahan dalam hal penggunaan metode mengajar. Hal-hal yang memerlukan pembenahan menyangkut:

a)      Pengenalan terhadap pribadi siswa. Agar guru dapat mengembangkan potensi pribadi siswa, maka ia perlu mengenal latar belakang pengalaman pribadi siswa, perlakuan dan pendidikan dari keluarganya, latar belakang kehidupan keluarganya, latar belakang sosial di masyarakatnya, minat dan ambisinya, bakatnya serta kemampuannya. Data tersebut dapat diperoleh, melalui tes-tes kepribadian maupun etas bantuan dari para konselor sekolah.

b)      Pengertian tentang hasil belajar yang harus dicapai oleh siswa. Guru dan siswa sendiri hendaknya mengerti, bahwa hasil-hasil belajar yang harus dicapai oleh murid bukan hanya berupa angka-angka rapor yang mewakili prestasi intelektualnya, melainkan mencakup juga :

Ø      nilai-nilai moral,

Ø      sikap mental wiraswasta,

Ø      apresiasi seni budaya,

Ø      kepekaan terhadap arti lingkungan,

Ø      fakta-fakta dan pengetahuan fungsional,

Ø      ketrampilan wiraswasta.

c)      Pelaksanaan berbagai aktivitas belajar siswa. Agar siswa lebih aktif membelajarkan diri sehingga mengalami perkembangan pribadi secara maksimal, maka aktivitas belajar anak hendaknya lebih bervariasi meliputi: mendengarkan, menulis, mematuhi perintah dan petunjuk, menyesuaikan diri, mencoba, membuat laporan, mengganggar, menyanyi, menari, menikmati pertunjukan, menilai, menyimpujkan, berpendapat, berbicara, memberi saran dan kritik, membantu teman `mengarang, membuat rencana, mengorganisir kegiatan belajar, berinisiatif, mengumpulkan data, menganalisa data, menarik kesimpulan dari analisa data, dan sebagainya.

d)     Penggunaan berbagai mefode mengajar. Guru hendaknya membimbing anak untuk aktif dengan berbagai metode mengajar seperti: ceramah, demonstrasi, eksperimen, field-trips, surve , diskusi, resitasi, debat, permainan peranan, karya wisata, ceramah, brainstorming, dan lain-lain.

   vii.            Pembenahan dalam pengorganisasian pengalaman belajar

Pengajaran di Indonesia telah mengalami berbagai macam pembaharuan, termasuk juga dalam hal pengorganisasian pengalaman belajar siswa. Dalam kondisi perkembangan sekolah-sekolah kita pada dewasa ini, ternyata modernisasi pengajaran tak dapat direalisir secara cepat. Mengenai organisasi pengalaman belajar, sekolah kita telah melaksanakan pengajaran dalam bentuk “broad-fields” (misalnya IPA, Matematika, IPS, Bahasa, PMP, Ketrampilan). Agar para siswa mengalami perkembangan pribadi yang integratif, dinamis dan kreatif, maka pembenahan lebih lanjut dalam hal pengorganisasian pengalaman belajar siswa. Ini tidak berarti, bahwa pengorganisasian yang sudah berlaku di sekolah kita itu harus dihilangkan. Pengorganisasian yang sudah ada biarlah terpakai dan berlangsung terus. Yang penting perlu dicari cara pengorganisasian lain untuk menunjang proses belajar-mengajar yang memberi kesempatan kepada para siswa untuk aktif belajar dari kenyataan hidup seharihari di dalam masyarakat.

Salah satu alternatif untuk mengembangkan organisasi pengalaman belajar siswa adalah dengan pelaksanaan “unit teaching” (pengajaran unit) di sekolah-sekolah kita. Bentuk organisasi ini bukannya untuk mengganti pengorganisasian yang sudah ada, melainkan sebagai selingan atau variasi pengalaman belajar siswa.

Pengajaran unit adalah suatu bentuk organisasi pengalaman belajar di mana pengalaman-pengalaman belajar dipelajari secara terpadu dengan berpusatkan pada aktivitas-aktivitas siswa untuk merumuskan dan memecahkan permasalahan hidup secara ilmiah, serta menggunakan segenap potensi kepribadian siswa. Pola umum pengajaran unit adalah berupa kegiatan-kegiatan belajar terpadu dengan memanfaatkan berbagai bidang studi untuk merumuskan serta memecahkan suatu masalah pokok secara ilmiah dengan menempuh beberapa langkah pokok.

Adapun langkah-langkah pengajaran unit terdiri atas :

 i.               Tahap inisiasi (“initiating stage”). Dalam tahap ini para siswa di bawah pengarahan guru menentukan topik dan sub topik-sub topik permasalahan yang ingin mereka pelajari. Di sini nampak, bahwa pengajaran memenuhi minat dan kebutuhan anak didik. Dalam tahap ini pula, para siswa merumuskan tujuan-tujuan yang hendak dicapai melalui kegiatan belajar ini. Kelompok-kelompok dibentuk beserta pengurusnya, dilanjutkan dengan pembagian tugastugas kelompok serta tugas-tugas masing-masing anggota kelompok. Dalam tahap ini pula para siswa belajar membuat perencanaan kegiatan belajar mereka untuk selama waktu yang mereka tentukan bersama.

ii.               Tahap pelaksanaan/pengembangan (“developing stage”). Dalam tahap ini anak mulai aktif mengumpulkan informasi tentang permasalahan yang akan mereka pelajari. Mereka mengumpulkan informasi dari berbagai sumber. Berdasarkan informasi kepustakaan, mereka merencanakan kegiatan lapangan guna memperoleh fakta aktual. Masing-masing kelompok bekerja menggali fakta, menyusun laporan masing-masing dan’ menyajikannya di dalam diskusi kelas. Mereka jugs mints bantuan dari guru-guru bidang studi serta beberapa nara sumber untuk memperoleh informasi dan penjelasan sehubungan dengan permasalahan yang mereka bahas. Dalam kegiatan belajar sehari-hari, para siswa melaksanakan bermacam-macam aktivitas dalam usalia memperkaya pengalaman belajar. Setiap kegiatan belajar, hasilnya dilaporkan, balk secara perorangan, kelompok kelompok, maupun secara pleno.

iii.                Tahap kulminasi (“culminating stage”). Tahap ini berisikan aktivitas-aktivitas puncak serta evaluasi semua hasil belajar yang dicapai. Serangkaian aktivitas yang cukup meriah diselenggarakan, dengan mengundang guru-guru, wakil wakil siswa kelas lain, kepala sekolah, para orang tua/wali siswa, serta para tokoh dan pemuka masyarakat setempat, guna menyaksikan prestasi belajar pads siswa. Di sini beraneka ragam aktivitas siswa dipertunjukkan, misalnya: diskusi kelas, pameran hasil-hasil karya siswa, dengan dimeriahkan oleh berbagai macam atraksi kesenian siswa. Segala sesuatu yang berhubungan dengan persiapan dan penyelenggaraan kegiatan ini ditangani oleh para siswa sendiri. Dalam tahap ini pula, semua pihak diberi kesempatan untuk memberikan penilaian terhadap semua spa yang telah dilakukan/disajikan oleh para siswa.

Dari pengajaran unit ini, murid-murid akan memperoleh banyak manfaat, antara lain :

Ø      mereka belajar membuat perencanaan,

Ø      mereka dapat belajar bekerja nyata di berbagai bidang pekerjaan,

Ø      mereka mengenal dunia kerja beserta lingkungannya,

Ø      mereka dapat bekerja bersama orang-orang lain,

Ø      mereka mengembangkan sikap mental wiraswasta,

Ø      mereka belajar berpikir secara ilmiah dan mampu memecahkan sesuatu permasalahan yang aktual,

Ø      mereka mengembangkan pribadi yang dinamis dan kreatif.

 viii.            Pembenahan Dalam Kurikulum pendidikan Formal.

Kurikulum sekolah-sekolah telah disusun berdasarkan pertimbangan dan pemikiran yang mendalam dari para ahli. Oleh karena itu, dalam usaha mewujudkan manusia wirausaha di lingkungan sekolah, kita tidak perlu merevisi kurikulum yang sudah ada ini secara total. Pembenahan kurikulum dalam rangka mempersiapkan manusia wirausaha dapat dilaksanakan dengan melengkapi kurikulum yang telah ada itu dengan bidang studi kewirausahaan.

Untuk mewujudkan manusia wirausaha di lingkungan sekolah, maka sudah waktunya bagi para pemikir pendidikan dan para administrator pendidikan untuk segera mencari upaya pengembangan kurikulum kewirausahaan di sekolah-sekolah kita. Kurikulum kewirausahaan ini dimaksudkan untuk memberi bekal minimal bagi para tamatan sekolah untuk menjadi manusia-manusia wirausaha

Dalam hubungan itu, kiranya hasil-hasil pemikiran dari Lembaga Bina Wiraswasta Pusat dapat dimanfaatkan oleh para pemikir dan administrator pendidikan kita. seperti kita ketahui, bahwa Lembaga Bina Wiraswasta telah menyiapkan seperangkat kurikulum kewirausahaan yang akan diintrodusir di sekolah-sekolah khusus kewirausahaan. Tentu saja sekolah-sekolah konvensional akan mengalami kesulitan di dalam menetapkan dan mengajarkan kurikulum kewirausahaan menurut isi dan ruang lingkup yang telah dirumuskan bagi sekolah-sekolah khusus kewirausahaan.

Pengembangan kurikulum kewirausahaan di sekolah-sekolah kita dapat ditempuh dengan jalan misalnya :

        i.            Mengembangkan suatu bidang studi tentang kewirausahaan.

Bidang studi ini dapat dikembangkan di sekolah dengan jalan menambahkannya pada kurikulum yang telah ada, sejauh hal ini tidak akan merusak bekerjanya sistem pengajaran. Kalau tidak demikian, bidang studi kewirausaahaan dapat menggantikan salah satu bidang studi yang agak relevan, misalnya menggantikan bidang studi keterampilan, dengan bidang studi kewirausahaan. Pengembangan bidang studi kewirausahaan ini hendaknya mempertimbangkan hal-hal berikut :

Ø      tidak terialu banyak merubah sistem pengajaran yang telah berjalan,

Ø      tidak terlalu mempersulit pekerjaan administrasi sekolah,

Ø      disajikan mengikuti poly pengajaran bidang studi yang sudah ada,

Ø      isi dan ruang lingkup bidang studi hendaknya diusahakan sedemikian rupa sehingga sesuai dengan tingkat-tingkat pendidikan, misalnya titik berat isi bidang studi untuk tingkat sekolah dasar tentunya dibedakan dengan titik berat isi bidang studi untuk tingkat pendidikan menengah,

Ø      demikian pula mengenai sequence bagi tiap-tiap kelas pads masing-masing tingkat pendidikan hendaknya disesuaikan dengan tingkat-tingkat perkembangan pribadi serta kebu1uhan siswa.

 

 

      ii.            Penyisipan kurikulum kewiraswastaan ke dalam bentuk aktivitas pengajaran periodik.

Usaha penempaan pribadi manusia wirausaha dapat pula dilaksanakan dengan menyisipkan kurikulum kewirausahaan ke dalam aktivitas pengajaran selingan yang dapat dilangsungkan secara periodik dengan memanfaatkan beberapa waktu tertentu. Pengajaran yang dapat berlangsung seperti itu misalnya bentuk pengajaran unit (“Unit Teaching”). Pengajaran unit sebagai selingan kegiatan belajar-mengajar, dapat dilaksanakan setahun sekali, satu catur wulan sekali, atau tiap satu semester satu kali dalam jumlah waktu tertentu. Satu hal yang lebih positif yaitu apabila pelaksanaan dan pengembangan pengajaran unit di sekolah-sekolah diarahkan pada belajar kewirausahaan.

lebih apabila mereka harus melaksanakan pengajaran unit bagi siswa-siswanya. Untuk itu kepada guru-guru perlu diusahakan kondisi kerja yang lebih menunjang untuk mendorong minas, membangkitkan kemauan serta kegairahan kerja. Bagi guru-guru yang bersikap mental wiraswasta, hal ini bukan merupakan masalah, karena justru mereka berjiwa dinamis dan ingin selalu mengerjakan dan menciptakan hal-hal barn. Bahkan dengan berbagai kesibukan yang kreatif dalam tugas mengajar, mereka memperoleh kepuasan tertentu akan hasil usahanya. Dengan proses-proses kelas yang bervariasi guru-guru akan merasakan pekerjaan yang hidup dan ticlak cepat membosankan, bahkan menantang.

Dengan pelaksanaan pengajaran unit yang kreatif, hal ini akan memperkaya pengalaman belajar sertamengembangkan seluruh aspek kepribadian anak. Dengan pengajaran unit pars siswa berpartisipasi di dalam proses-proses kelompok serta melaksanakan berbagai macam aktivitas yang semuanya melatih pribadi yang dinamis clan kreatif. Berikut ini di kemukakan contoh tentang variasi aktivitas belajar siswa serta proses-proses kelompok siswa di dalam melaksanakan pengajaran unit.

    iii.            Pembenahan Proses-Proses Kelompok.

Hubungan-hubungan pribadi antar siswa di dalam kelas mempunyai pengairuh terhadap belajar mereka. Aktivitas belajar anak dapat dipengaruhi oleh perasaan-perasaannya tentang diri sendiri dalam hubungannya dengan guru-guru serta teman-temannya. Pertumbuhan pribadi si siswa banyak tergantung pads suasana emosional dari kelompok kelasnya. Proses-proses kelompok di kelas bukan hanya mempengaruhi perasaan dan sikap pars siswa, tetapi juga mempengaruhi hasil belajar mereka. Hal ini menuntut guru-guru untuk berusaha mengadakan modifikasi-modifikasi terhadap proses-proses kelompok siswa di dalam kelas.

Tuntutan terhadap guru-guru untuk mengembangkan situasi belajar-mengajar di dalam kelas memang menambah beban tanggungjawab serta kesibukan kerja guru-guru. Terlebih-lebih apabila mereka harus melaksanakan pengajaran unit bagi siswa-siswanya. Untuk itu kepada guru-guru perlu diusahakan kondisi kerja yang lebih menunjang untuk mendorong minas, membangkitkan kemauan serta kegairahan kerja. Bagi guru-guru yang bersikap mental wirausaha, hal ini bukan merupakan masalah, karena justru mereka berjiwa dinamis dan ingin selalu mengerjakan dan menciptakan hal-hal barn. Bahkan dengan berbagai kesibukan yang kreatif dalam tugas mengajar, mereka memperoleh kepuasan tertentu akan hasil usahanya. Dengan proses-proses kelas yang bervariasi guru-guru akan merasakan pekerjaan yang hidup dan ticlak cepat membosankan, bahkan menantang.

Dengan pelaksanaan pengajaran unit yang kreatif, hal ini akan memperkaya pengalaman belajar serta mengembangkan seluruh aspek kepribadian anak. Dengan pengajaran unit para siswa berpartisipasi di dalam proses-proses kelompok serta melaksanakan berbagai macam aktivitas yang semuanya melatih pribadi yang dinamis clan kreatif. Berikut ini di kemukakan contoh tentang variasi aktivitas belajar siswa serta proses-proses kelompok siswa di dalam melaksanakan pengajaran unit.

·      Dalam lingkungan masyarakat

Di dalam masyarakat terdapat berbagai jalur potensial untuk pengembangan pratek-praktek kewirausahaan. Jalur-jalur yang dimaksud antara lain keluarga, dan perkumpulan-perkumpulan masyarakat. Mengenai pengembangan praktek kehidupan berwirausaha di lingkungan keluarga telah di kemukakan tentang perlunya membangun keluarga sebagai lembaga ekonomi mini (sebagai perusahaan mini). Setiap usaha wirausaha keluarga akan lebih berhasil, apabila ditunjang dengan usaha pengembangan kehidupan berwirausaha di luar lingkungan keluarga di dalam masyarakat.

Berbagai bentuk perkumpulan masyarakat seperti misalnya perkumpulan-perkumpulan usaha ekonomi (koperasi, kelompok tani, dan himpunan para pengusaha kecil), perkumpulan-perkumpulan sosial (panti asuhan, palang merah, pramuka), perkumpulan wanita (kelompok-kelompok PKK di tiap-tiap RT, desa dan kecamatan),Perkumpulan pemuda, dan sebagainya, dapat dimanfaatkan untuk pengembangan praktek-praktek kewirausahaan.

Lembaga Bina Wiraswasta telah menyiapkan dan merintis pelaksanaan pendidikan kewirausahaan tingkat nasional serta tingkat daerah dan desa. Dalam usaha pengembangan secara nasional, pelayanan utamanya berupa pelaksanaan program pendidikan singkat yang bertujuan untuk pengkaderan dengan mempersiapkan tenaga-tenaga pengajar atau pelatih. Para pelatih atau pengajar yang telah dipersiapkan itu nantinya dapat mengembangkan kewiraswastaan pads semua sasaran secara efisien. Untuk sementara, yang menjadi sasaran utama dalam pengembangan ini adalah seluruh sektor yang bergerak dalam usaha peningkatan ekonomi, terutama para pengusaha kecil atau para calon pengusaha, baik dari kalangan swasta maupun pemerintah (para pegawai yang menjelang masa pensiun).

Di samping itu, Lembaga-Bina Wiraswasta telah mencoba merancang berbagai macam program khusus pendidikan kewirausahaan dalam bentuk program-program pendidikan singkat seperti misalnya :

        i.            Program Aji Tunas Wiraswasta; bagi para pengusaha kecil dalam para calon/peminat menjadi pengusaha kecil, para anggota koperasi, para jebolan sekolah dan para tamatan S. L.A. yang ingin berwiraswasta.

      ii.            Program Ajikarya Wiraswasta; bagi para pegawai negeri para karyawan dan staf pimpinan perusahaan, para manajer perusahaan, dan para sarjana.

    iii.            Program Tunas Keluarga Wiraswasta; bagi para orang tua sebagai bekal untuk mempersiapkan anak-anak mereka menjadi manusia wiraswasta.

    iv.            Program Ratna Wiraswasta; khusus bagi para wanita/ibuibu untuk memperoleh bekal praktek kewiraswastaan dilingkungan keluarga dan masyarakat di dalam ketrampilanketrampilan kewanitaan.

      v.            Program Damar Aji Wiraswasta; bagi para calon pelatih atau guru kewiraswastaan di seluruh tanah air. Para tamatan dari program ini dapat mengajar pads instansi-instansi pemerintah, lembaga-lembaga ekonomi swasta, dan pads Lembaga Bina Wiraswasta sendiri.

    vi.            Program penataran-penataran khusus; yang diselenggarakan berdasarkan kebutuhan dan permintaan dari para peserta program.

Dalam rangka pengembangan kewirausahaan di daerah-daerah dan desa-desa, maka peranan sekolah-sekolah dalam mempersiapkan manusia wirausaha akan diperkuat. Di samping itu lembaga-lembaga pendidikan luar sekolah akan difungsikan untuk melaksanakan pendidikan luar sekolah di bidang kewirausahaan. Dalam setiap usaha pengembangan praktek kewirausahaan, baik melalui jalur pendidikan formal maupun jalur pendidikan non-formal, diperlukan kerjasama dan pengelolaan secara terpadu dari antara pihak-pihak instansi pendidikan, instansi pemerintah setempat, dan pihak lembaga binis wiraswasta.

 

5 Tanggapan to “Pengembangan Mental dan Etika Bisnis”

  1. blognya bagus, tapi kalo bisa contoh proposal UKM juga ditampilkan

  2. Thanks Ya atas pengetahuan ini

  3. ithis article is usefull…tq….salam wirusaha teman….

  4. Tsuroyah Agustin Says:

    trimz atas tambahan pengetahuan..
    saya blh menanyakan tentang etika bisnis dan pendidikan sbb:
    1.bagaimana mengimplementasikan etika bisnis pada bidang pendidikan/mendidik siswa untuk lebih peka terhadap masalah-masalah yang mengandung etika, hal yang akan dilakukan benar/salah, baik atau buruk, serta apa dampaknya masing-masing keputusan etika terhadao lingkungan sekitarnya?
    2. Bagaimana sebenarnya etika bisnis diajarkan di sekolah—kalaupun ada—dan di perguruan tinggi?
    trimz…
    mhn bantuannya ya kawan…
    q mencoba share untuk menambah pengetahuan saya.
    terima kasih atas bantuannya..
    balas gak pakek lama…
    maaf merepotkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: